Cara berpikir
Wednesday, January 9th, 2008Umur tidak bisa menjadi tolok ukur kedewasaan seseorang adalah hal yang tidak terhindarkan. Tapi memang, untuk mereka yang sudah hidup lebih lama, kadang cenderung meremehkan orang-orang yang belum hidup se-lama mereka. Semua itu adalah fakta yang tak terhindarkan dalam keseharian. Dan memang nyata terlihat di lingkungan sekitar.
Lalu apa hubungannya dengan post ini?
Entah mengapa tiba-tiba gw mau membahas sesuatu yang agak berat spt ini. Ya.. gitu.. pemicunya setelah membaca blog seseorang, wanita itu.
Bukan dendam atau apa, tapi wanita itu adalah orang yang hampir mengubah apa yang ada dalam hidup gw. Untungnya gw cukup bertahan dengan apa yang gw punya. Dia adalah orang yang dengan keras mencoba mengubah cara gw berpikir saat itu. Mungkin menurut dia, sebagai anak kecil, yang harus gw tau adalah punya masalah dengan seorang teman, untuk kemudian merasa yang salah adalah diri sendiri, minta maaf ke orang itu seakan ga punya teman yang lain, dan berteman kembali walau mungkin hanya dianggap teman serep oleh teman yang itu. Tapi sayangnya saat itu gw ga sebodoh yang dia pikir. Untungnya. Untungnya.
Lalu apa yang terjadi kemudian?
Terlihatlah dua kubu yang berdiri antara gw dan dia. Mereka lebih tepatnya. Mereka dengan cara berpikir yang sempit, membela apa yang sebenarnya tidak ada. Fakta-fakta yang mereka perdebatkan adalah fana, dan orang yang paling dirugikan disini adalah, saya sendiri.
Entah bagaimana, bahkan mungkin sampai saat ini, mereka berpikir bahwa orang yang mempelajari pola psikologis seseorang adalah orang yang mengerti apa yang ada di dalam diri orang itu. Padahal mereka tidak jauh dari mengetahui setitik kecil.
Kedua orang itu, dan satu orang lainnya, memang tidak terhindarkan telah hidup lebih lama dari gw disini. Jauh lebih lama. Tapi seperti yang dikatakan oleh seseorang, ".. bukan berarti sudah punya banyak pengalaman". Tetap saja itu tidak mutlak. Bukan berarti mereka sudah melalui masa-masa seperti yang gw lalui sekarang. Setiap orang punya cerita yang berbeda, jadi jangan pernah menyamakan itu dengan mutlak. Jangan sok tau, jangan terlalu ikut campur.
dan, LIHAT SIAPA YANG BENAR DARI KEDUA SISI.
Maafkan, emosi meledak.